Senin, 21 September 2015

Alasan mereka memilih ISLAM dan menjadi MUALLAF

Abdur Raheem Green Mengawali Hidayah dari Doa Bunda Maria

abdur-raheem-greenAbdur Raheem Green terlahir di Dar es Salaam, Tanzania dengan nama Anthony Vatswaf Galvin Green. Ia lahir ketika ayahnya masih menjabat sebagai administrator kolonial Inggris.
Onislam.net melansir, ibu Anthony seorang penganut Katolik Roma, sedangkan ayahnya agnostik. Sejak pernikahannya, sang ibu menyadari bahwa dirinya bukan seorang Katolik yang baik, tapi dia ingin memperbaikinya dengan mengirimkan kedua putranya ke sekolah Katolik.

Maka, Anthony dan saudara laki-lakinya, Duncan, dididik untuk menjadi seorang pemeluk Katolik yang taat. Pada umur 10 tahun, Anthony masuk ke sebuah sekolah Katolik berasrama yang sangat terkenal. Sekolah biara itu bernama Ampleforth College, terletak di Yorkshire, utara Inggris.

Suatu malam, ibunya mengajarkan sebuah doa yang biasa dilafadzkan umat Katolik. “Salam Bunda Maria. Maria, ibu dari Tuhan, terberkatilah engkau di antara para perempuan dan terberkatilah buah yang kau lahirkan, Yesus Kristus.” Itulah kali pertama Anthony merasa heran. Dia bertanya kepada dirinya sendiri, “Bagaimana mungkin Tuhan bisa mempunyai ibu?” Anthony terus memikirkan hal itu. Seandainya Maria adalah ibu dari Tuhan, bukankah lebih baik jika dia menjadi Tuhan itu sendiri?

Seiring waktu, pertanyaan-pertanyaan itu semakin menumpuk di benaknya. Ia juga bertanya, mengapa saya harus pergi melakukan pengakuan dosa? “Bisakah kalian membayangkan anak umur 10, 11, sampai 20 tahun melakukan pengakuan dosa? Apakah kamu yakin mereka akan mengakui semua dosa-dosa mereka.” Mengapa kita harus pergi kepada pendeta untuk mengakui dosa? Mengapa tidak langsung kepada Tuhan saja? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah terjawab.

Ketika ia berumur 11 tahun, ayahnya pindah ke Mesir sebagai Manajer Umum Barclays Bank di Kairo. Namun, Anthony tetap tinggal diInggris. Ia hanya sesekali ke Mesir untuk berlibur.

Anthony menyimpan banyak pertanyaan tentang Katolik. Tapi, ketika seseorang menantang atau mempertanyakan keimanannya, dengan penuh semangat ia akan membela. Ia merasakannya sebagai sebuah paradoks yang aneh.
Ketika itu, ia tengah berlibur di Mesir dan bertemu dengan seseorang. Setelah percakapan selama 40 menit, orang itu memintanya menjawab beberapa pertanyaan sederhana.
Apakah kamu percaya Yesus itu Tuhan? Ya. Kamu percaya Yesus mati di tiang salib? Ya. Jadi, kamu percaya Tuhan mati?
Smash! Seolah-olah Mike Tyson memukul wajahnya dengan  kepalan tinju. Ia sangat terperangah.
Anthony segera menghentikan percakapan dan tidak ingin memikirkan hal itu lagi. Ia pergi, merokok, minum kopi, menulis, dan melakukan apa saja kecuali berpikir tentang orang itu. “Lupakan semua itu, lupakan agama, lupakan spiritualitas. Mungkin masalah sebenarnya adalah saya tidak punya cukup uang.”
Ia berpikir, barangkali bisa memulainya dari Inggris, Amerika, atau Jepang.

Sampai suatu hari, ia menemukan dirinya berada di sebuah toko buku-buku Islam di samping masjid. “Apakah Anda seorang Muslim?” seorang lelaki penjaga toko bertanya pada Anthony. Anthony tidak paham. Apakah yang dimaksud dengan Muslim? “Dengar, saya percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya,” lanjut si lelaki.

Lelaki penjaga toko itu juga berseru gembira sembari mengatakan, shalat Jumat telah tiba. Anthony tidak tahu apa itu shalat Jumat, tapi dia mengikuti orang itu ke masjid. Semua orang di masjid mengajarinya. Saat ini, Anthony dengan Abdur Raheem Green seperti merasa baru saja memulai sebuah hidup baru.  Ia mulai sholat, berdoa, dan mempraktikkan ibadah umat Muslim.

Menurutnya, Islam adalah cahaya, kedamaian, dan ketenangan hati. Ibarat berada dalam sebuah gedung yang gelap gulita, kemudian kita bisa membuka pintu, melangkah keluar, dan berada dalam  terang. Tiba-tiba, kita bisa melihat semuanya dengan jelas.

Marilyn Mornington adalah Hakim Distrik di Inggris, dosen international, dan penulis hukum keluarga termasuk bidang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Ia terpilih sebagai sesama World Academy of Arts & Science.  "Saya sangat nyaman dengan kehidupan keluarga dan kisah-kisah para istri-istri nabi dan para sahabat." Dia berkata kemudian. Risetnya selama bertahun-tahun tersebut membawanya ke suatu titik ketika pilihan menjadi jelas. "Saya harus mengatakan bahwa saya benar-benar tidak punya pilihan dalam hal ini. Allah subhanau wata'ala telah menurunkan pandangan matanya padaku dan itu saja dari saat itu ... Dia menuntunku menyusuri jalan setapak dari tempat tak ada jalan untuk kembali darinya, karena semakin aku sampai tahu tentang Islam, tentang Nabi Muhammad saw, [semakin] itu menjadi jelas bagi saya bahwa ini adalah di mana saya ingin menjadi bagian dan itu adalah apa yang saya inginkan. "


Dr. Murad Wilfried Hofmann, Filosof Islam Kontemporer Dari Jerman, Pengacara, dan Mantan Duta Besar.


Dr. Hofmann telah melalui pergolakan pemikiran yg sangat panjang sebelum akhirnya menjadi mualaf."Islam adalah agama yg Rasional", ujar Dr. Hofmann
"Saya mulai melihat Islam dengan mata kepala sendiri, sebagai ajaran yg tidak di rekayasa, murni kepercayaan pada satu-satunya Allah yang benar, yg mana yang tidak memperanakkan, dan tidak diperanakkan, yg mana tidak ada yg mempersamainya... Di tempat Deisme yang memenuhi syarat dengan prinsip Ketuhanan Kuno dan konstruksi dari Trinitas ilahi, Alquran lah yg menunjukan aku dengan cara yang paling jernih, paling straightforward, yang paling abstrak - sehingga secara historis paling canggih - dan sedikitnya berkonsep antropomorfik tentang Allah. Pernyataan ontologis dalam Quran, serta ajaran-ajaran etikanya, membuat saya kagum karena keseluruhannya masuk akal, "sama bagusnya dengan emas," sehingga tidak ada ruang untuk sedikit pun keraguan tentang keaslian dari misi kenabian Muhammad. Orang-orang yang memahami sifat manusia tidak bisa gagal menghargai kebijaksanaan yang tak terbatas mengenai "Perintah dan Larangan"yang diturunkan dari Tuhan kepada manusia dalam bentuk Al-Qur'an."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar