Sabtu, 05 Desember 2015

Makna Kehamilan

Kehamilan adalah sesuatu yang istimewa yang hanya di miliki oleh kaum wanita. Dalam kehamilan banyak sekali keutamaan yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah saw bersabda
“Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya seperti di garis fi sabilillah. Dan jika ia meninggal di antara waktu tersebut, maka sesungguhnya baginya adalah pahala mati syahid”. (Thabrani)


Dalam lain kesempatan Nabi saw. Bersabda kepada putrinya Fatimah ra.: “ Wahai Fatimah, jika WANITA mengandung anak di PERUTNYA, maka para malaikat akan memohonkan AMPUNAN baginya, dan ALLAH menetapkan baginya setiap hari SERIBU KEBAIKAN, menghapuskan SERIBU KEJELEKANNYA. Ketika wanita itu merasa SAKIT ketika MELAHIRKAN, maka ALLAH menetapkan baginya pahala para pejuang ALLAH SWT. Jika ia MELAHIRKAN bayinya, maka KELUARLAH DOSA-DOSANYA seperti ketika ia di lahirkan oleh ibunya, dan tidak akan keluar dari dunia dengan membawa SATU DOSA APAPUN. Di kuburnya akan di tempatkan di taman-taman surga. ALLAH memberinya PAHALA SERIBU IBADAH HAJI DAN UMRAH, dan SERIBU MALAIKAT memohonkan ampunan baginya hingga HARI KIAMAT”


Wanita Shalihah akan menghadapi semua ini dengan penuh harapan dan kesabaran. Karena dibalik itu semua terdapat janji-jani pahala yang berlipat ganda. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa para sahabat, walaupun dalam keadaan yang sangat miskin, tetapi tetap berkeinginan untuk mempunyai banyak anak. Padahal apapun alasan kita untuk tidak mau mempunyai banyak anak, ternyata keluarga sahabat lebih parah lagi keadaan hidup mereka dibandingkan dengan kehidupan kita.

Kamis, 26 November 2015

Yuk mendewasakan diri

Mari dewasakan diri. Dengan apa?
1. Kalo salah, introspeksi diri, nggak perlu dunia tau kalo lu udah sadar kalo lu salah. Salah, dosa. Tobat, bukan curhat di socmed
2. Kalo sedih, kecewa sama orang nggak usah lah nyebar2 kejelekannya, update status yang buat orang iba, yg buat orang mikir kalo lu yang terdzolimi. .
Baiknya kalo punya masalah itu dipikirkan lamat-lamat.
Istighfar banyak2 dengan lisan, bukan tulisan dengan update..
.
Baiknya istigfar itu dengan lisan. Emang pernah dengar kalo Rasulullah atau para sahabat sahabiyah istighfar dengan ditulis?? Karena apa?
Karena update status curhat, keluh kesah di socmed nggak ada gunanya buat orang lain, yang nggak ada manfaatnya. Orang nggak butuh, nggak peduli cuma di read, like, komen. 
Di doain? Belum tentu!
Curhat di status itu cuma buat pembenaran diri lu, lu merasa lu bener trus lu mau cari pembelaan dari orang lain secara nggak langsung. Ngumpulin iba dari orang lain.. Di rumah punya cermin?
Gunakan baik2.
Punya kasur?
Coba tarik nafas dalam2 lihat ke langit2, pejamkan mata..
Coba deh review kegiatan hari ini dari pagi sampai sebelum tidur. 
Ngapain aja? 
Dosa apa aja yang udah dibuat hari ini?
Udah tobat? Udah istigfar?
Nggak perlu nyalahin orang lain! Gua bikin dosa karena dia. Dia kan begini, diakan begitu. Dia yang jelek, gua mah baik, dianya aja begitu.
Nggak malu sama istri Rasulullah yang paling muda, masih tergolong anak2 menuju remaja tapi punya pikiran & sikap yang dewasa?
Alah, dia kan istri Rasulullah, kita manusia biasa mana bisa begitu!
Emang, emang kita manusia biasa nggak akan diri kita ini bisa seperti istri Rasulullah, sahabat, apalagi Rasulullah. Tapi Allah maha tahu, Allah suka dengan manusia yang mau berusaha merubah nasibnya, merubah dirinya sendiri. :)

Selasa, 17 November 2015

BERBICARA YANG BAIK atau LEBIH BAIK DIAM

Asslamualaikum Muslimah..

Kerap kali kita meluapkan amarah kita saat sedang emosi kepada orang-orang terdekat kita atau di media sosial. Bahkan dari perbuatan kita itu, banyak pula pihak-pihak atau orang-orang disekitar kita tersakiti.

Tak jarang pula jika kita tersakiti dengan seseorang, kita akan melampiaskan rasa kesal dan sakit hati kita pada orang tersebut dengan kata-kata kasar, tidak baik dan menyakitkan pula.

Sebenarnya apa tujuan dari perilaku kita tersebut? apakah kita ingin agar orang yang menyakiti kita tahu bahwa kita sangat tersakiti? atau apakah kita ingin agar oarang itu merasakan hal serupa dengan kita yang tersakiti?

Muslimah, sebelum kita meluapkan amarah, sakit hati dan kesal, sebaiknya pikirkan terlebih dahulu baik dan buruknya. Bagaimana dampaknya? akankah tidah merusak tali silaturahim? akankah tidak menjadi perdebatan kusir?

Jangan sampai kata-kata yang keluar dari mulit kita menyakiti teman, sahabat, keluarga, maupun orang tua kita ya muslimah. Jangan sampai kata-kata kita menghilangkan kepercayaan dan kebaikan seseorang kepada diri kita. Jangan sampai kata-kata kita membunuh kita sendiri.

Untuk menghindari dampak buruk ketika kita sedang emosi, ucapkan istighfar, bisa juga dengan berwudhu lalu membaca alquran atau bisa pula menumpahkan segala emosi kita dengan curhat kepada Allah dengan kata-kata yang lembut, menangislah bila itu perlu untuk melegahkan rasa marah dan kesalmu.

InsyaAllah, Allah pasti menghapus rasa kesal, sedih dan amarahmu dengan memaafkan seseorang yang telah menyakitimu. Bukankah memaafkan itu indah? Bahkan Allah Maha Pemaaf dosa-dosa kita jika bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Yang perlu diingat bahwa sabar itu tidak ada batasnya. Yuk, berbicara yang baik atau lebih baik diam jika sedang marah ya muslimah :)

Selasa, 10 November 2015

Sudahkah ilmu kita bermanfaat



Ciri-ciri ilmu yang bermanfaat di dalam diri seseorang yaitu:
1.Menghasilkan rasa takut dan cinta kepada ALLAH
.
2.Menjadikan hati tunduk atau khusyuk kepada ALLAH dan merasa hina di hadapan-Nya dan selalu bersikap tawadu’
.
3.Membuat jiwa selalu merasa cukup (qanaah) dengan hal-hal yang halal walaupun sedikit yang itu merupakan bagian dari dunia
.
4.Menumbuhkan rasa zuhud terhadap dunia
.
5.Senantiasa didengar doanya
.
6.Ilmu itu senantiasa berada di hatinya
.
7.Menganggap bahwa dirinya tidak memiliki sesuatu dan kedudukan
.
8.Menjadikannya benci akan tazkiah dan pujian
.
9.Selalu mengharapkan akhirat
.
10.Menunjukkan kepadanya agar lari dan menjauhi dunia. Yang paling menggiurkan dari dunia adalah kepemimpinan, kemasyhuran dan pujian
.
11.Tidak mengatakan bahwa dia itu memiliki ilmu dan tidak mengatakan bahwa orang lain itu bodoh, kecuali terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah dan ahlussunnah. Sesungguhnya dia mengatakan hal itu karena hak-hak ALLAH, bukan untuk kepentingan pribadinya
.
12.Berbaik sangka terhadap ulama-ulama salaf (terdahulu) dan berburuk sangka pada dirinya
.
13.Mengakui keutamaan-keutamaan orang-orang yang terdahulu di dalam ilmu dan merasa tidak bisa menyaingi martabat mereka
.
14.Sedikit berbicara karena takut jika terjadi kesalahan dan tidak berbicara kecuali dengan ilmu. Sesungguhnya, sedikitnya perkataan-perkataan yang dinukil dari orang-orang yang terdahulu bukanlah karena mereka tidak mampu untuk berbicara, tetapi karena mereka memiliki sifat wara’ dan takut pada ALLAH Ta'ala
.
.
Tanya diri:
Sudahkah ilmu kita bermanfaat [bagi diri sendiri dan orang lain] ?

Jumat, 06 November 2015

HP sepi gak perlu galau muslimah :)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh “Laa Tahzan, Innallaha Ma'ana” Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita…

sahabat sholeh/sholehah
teman memang memiliki arti penting di dalam hidup kita. tertawa bersama, berbagi kesedihan, saling sharing untuk bertukar pendapat, dan masih banyak lagi hal hal menyenangkan yang dapat kita lakukan bersama teman.

Teman yang Sholeh/Sholehah umpama cahaya yang dikirimkan Allah untuk kita, membimbing dan merangkul, melangkah bersama dijalan Allah.

Tapi ingat, tak selamanya teman memiliki waktu untuk dicurahkan penuh kepada kita. Tak selamanya telinga mereka ada untuk mendengar keluh kesah kita. Tak selamanya mulut mereka siap memberi nasehat atau sekedar semangat.
.
terus jadi bete? galau? sepi?
tapi Allah selalu bersama kita lho!
.
sadarkah wahai sahabat?
DIA adalah Dzat yang tak pernah alpa mengawasi kita, Dialah yang tak pernah mengkhianati dan selalu ada bahkan ketika kita sendiri sekalipun. Allah ada dan akan mendengar tiap doa doa mahkluknya, Allah itu dekat, sedekat urat nadi kita. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus
.
Astaghfirullahal'adziim
Alhamdulillah wa syukurillah



Kamis, 15 Oktober 2015

Bismillah

Duhai calon pemimpin keluarga kecilku..
Aku tau disana kau sedang mempersiapkan diri, terus memperbaiki setiap amalan yaumiyahMu agar kau kelak siap menjadi imam dan pemimpin keluarga kita nanti..
Aku pun disini juga sedang mempersiapkan diri agar kelak nanti aku dapat menjadi ma'mum yang taat serta sahabat yang pintah yang soleha agar kau dapat dengan nyaman untuk berdiskusi seputar urusan dunia maupun
urusan akhirat..

aku tidak menjanjikan kecantikan karena suatu saat kecentikanku ini akan pudar, pudar dimakan usiaku yang kelak semakin tua dan mengeriput kulitku, wajahku yang tak akan kencang lagi mungkin kelak akan mengendur di makan usia. Mungkin di luar sana pun banyak yang lebih cantik dariku, tapi aku berusaha agara dengan semua yang aku miliki dapat kau dapat merasa nyaman ada disampingku..

Aku pun tidak mejanjikan keindahan akhlak karena aku hanyalah muslimah biasa yang masih penuh dengan kekurangan. Tapi aku berharap engkau kelak dapat dengan sabar dan penuh kasih sayang membimbingku dan keluarga kita nanti untuk semakin mencintai Allah..

Aku pun tidak dapat menjanjikan cinta yang besar karena kelak cinta tertinggi kita hanyalah untuk Allah, tapi aku akan mencintaiMu sebagai bentuk cintaku kepada Allah. Aku akan mengabdi kepadaMu sebagai bentuk pengabdianku kepada Allah..

Aku pun tidak menjanjikan dapat menjadi istri yang baik. Tapi aku akan selalu berusaha untuk mendampingimu di kala kau bahagia maupun bersedih, aku akan selalu berusaha ada disini menjadi orang pertama yang akan mendukung semua ide cemerlangmu dan mengingatkan di kala kau khilaf..

Aku akan selalu setia disini menunggumu :)

Senin, 12 Oktober 2015

BAPER?? gak salah kok

Bukankah setaip manusia punya perasaan? itukah yang membedakan kita dengan hewan??
Sangat sering kita dengar istilah BAPER alia bawa perasaan dalam kehidupan kita sehari-hari. katanya sih jadi seorang yang BAPER itu cenderung gak baik, malah tambah sering dibully, di ejek, dimaki, dll.

Bukannya setiap manusia itu pasti punya perasaan, bukannya itu salah satu pembeda kita dengan hewan..
Bukankah BAPER itu fitrah yaa.. tapi kalau sampai salah arah akan membuat masalah juga sih.
Jadi BAPER itu ga masalah si selama kita bisa menempatkan sesuai porsinya, bahkan BAPER akan membuat kita peka terhadap orang lain dan bagaimana harus bersikap terhadap orang lain.

BAPER membuat kita lebih bersyukur dan BAPER bisa mendekatkan kita pada sang pencipta perasaan kan..

Maka BAPERlah pada tempatnya karena jika kita BAPER sembarangan dampaknya juga bakal buruk loh..
orang yang BAPER biasanya cenderung mudah tersinggung, mudah galau, mudah percaya, gampang dirayu dan mudah berprasangka.
Supaya kita bisa BAPER pada tempatnya maka gunakanlah juga akal, perasaan dan hati harus sejalan..

Jangan bawa perasaan aja tapi akalnya juga harus dipake dong, jangan pake akal aja tapi perasaannya juga dibawa dong.. jadi harus seimbang sesuai dengan kata hati

Bukankah Allah sudah berfirman dalam ayat cintanya 

Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (al-mulk:23)


Kamis, 01 Oktober 2015

Jomblo "MASBULOH"

Hari gini kok mau sih ngabisin waktu buat galauin status, tenang aja kalee....
Allah udah siapain 1 orang jodoh sejatimu loh untuk kita yang akan dipertemukan suatu hari nanti ketika kita sudah siap. Yuk sekarang mumpung masih ada waktu kita sama-sama menyiapkan dan memantaskan diri ini untuk bertemu dia, jodoh yang sudah disiapkan allah kepada kita. Tapi sudahkan kamu tahu apa yang ada di balik kata memantaskan diri? Memantaskan diri berarti kita membuat diri kita pantas mendapat jodoh. Ketika kita memiliki target jodoh tertentu, yang mana jika kita memiliki kriteria jodoh yang kita inginkan, maka kita harus memantaskan diri agar sesuai dengan kriteria kita.
Padahal jodoh tidak selamanya memiliki rumus itu, tidak selamanya sesuai dengan rumus yang kita terapkan dalam kehidupan manusia. Banyak yang memiliki keyakinan ketika kita ingin memiliki jodoh dengan spesifikasi tertentu, maka kita harus memantaskan diri untuk spesifikasi yang kita inginkan dari jodoh itu. Ada yang menginginkan jodoh dengan kriteria tinggi, maka dia harus menaikkan spesifikasinya, agar nanti ketika sudah pantas, dia akan mendapatkan jodoh yang dia inginkan dengan spesifikasi yang cocok. Padahal jodoh tidak selamanya seperti itu. Tidak berdasarkan kepantasan dan kepatutan tertentu. Jodoh adalah pilihan Allah.
Akhirnya ketika dia tidak menemukan jodoh dengan spesifikasinya, maka dia tidak mau menikah. Ketika tidak ketemu jodoh yang sesuai spesifikasi, maka dia bisa jadi menggerutu dan menyalahkan Allah, karena merasa dirinya sudah sesuai spesifikasi, maka harus mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya. Dia menganggap ketika sudah memenuhi spesifikasi, maka Allah wajib memberikan apa yang menjadi impiannya. Dia menggugat Allah. Di samping itu juga, sangat kental nuansa Law of Attraction di balik kata memantaskan diri. Apa itu Law of Attraction? Itu adalah istilah modern untuk hukum karma dalam keyakinan hindu. Kita mendapatkan apa yang pantas kita dapatkan. Ketika kita ingin mendapatkan, maka kita harus memantaskan diri agar bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Memantaskan diri, dalam pandangan LoA, adalah dengan memancarkan frekuensi yang cocok ke alam semesta lewat pikiran.
Ketika kita sudah memantaskan diri, maka kita akan menarik Allah untuk memberikan yang kita inginkan. Dan seolah-olah Allah akan bergerak sesuai dengan kepantasan kita, bukan sesuai dengan kehendakNya. Artinya dari kita yang bergerak, kemudian Allah yang memberi kita sesuai yang kita kehendaki. Seolah olah Allah menunggu kita untuk bergerak sebelum berkehendak. Seolah Allah tidak memiliki kehendak merdeka, melainkan harus menunggu frekuensi yang tepat dari hambaNya untuk bergerak. Kita harus menyesuaikan diri dengan jodoh kita, nanti baru Allah memberi jodoh yang sesuai.
Dan dalam prakteknya, banyak sekali rumah tangga yang tidak berdiri di atas kecocokan seperti itu. Banyak orang yang nampak jodohnya tidak cocok dan tidak sesuai, ya ini karena memang yang berlaku bukan seperti yang teori memantaskan diri, yang meyakini bahwa jodoh adalah dari diri kita sendiri. Bukan seperti teori jodoh adalah dari usaha kita sendiri, bukan dari pemberian Allah. Dan bisa jadi menurut kita cocok, tapi menurut Allah tidak. Kita lebih percaya dan lebih menerima pilihan Allah daripada pilihan kita sendiri. Karena Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak.
Banyak sekali yang jika kita lihat tidak cocok, tetapi nyatanya tetap berumah tangga hingga sekarang. Dan banyak sekali orang yang tidak pernah saling kenal sebelumnya, baru mengenal saat sesi perkenalan, tapi berumah tangga dengan indah. Bahkan ada yang sama sekali tidak pernah melihat istrinya sama sekali, baru melihat setelah melakukan akad nikah. Tapi rumah tangga mereka bahagia. Allah tidak menetapkan teori memantaskan diri seperti ini. Yang harus kita lakukan adalah kita beramal shaleh sebanyak mungkin, dan ini adalah tugas kita selama di dunia, apakah kita mau berjodoh atau tidak, tetaplah itu menjadi tugas kita kepada Allah. Kita kita harus mengejar rahmat Allah.
Persoalan jodoh itu menjadi urusan Allah. Sebagaimana ada yang tidak diberi harta banyak di dunia ini, ada mereka yang tidak diberi jodoh. Tapi di sorga nanti, semua akan meraih jodoh. Di mana masalah teori memantaskan diri? Masalahnya adalah kita merasa bahwa jodoh adalah dari diri kita sendiri yang kemudian mengontrol Allah. Ketika kita tidak pantas, maka Allah tidak akan memberi. Konsekuensi teori ini adalah tidak ada Allah di dunia ini. Atau jika dipaksakan menganggap adanya Allah, maka Allah tidak memiliki kehendak sendiri, dan Allah dikontrol oleh kehendak hambaNya. Karena LoA pada dasar teori aslinya adalah teori yang meniadakan Allah, yang ada dalam kamus mereka adalah alam semesta, dengan kata semesta, mereka meniadakan Allah. Ketika kita ingin sesuatu, maka tinggal memikirkan, memancarkan gelombang ke semesta, maka semesta akan memproses permintaan kita, kita akan mendapat apa yang kita pikirkan. Semesta akan hanya memproses apa yang diminta dan dipikirkan oleh pikiran kita. Demikian keyakinan Law of Attraction yang menyimpang.
Kita akan dapat apa yang kita pikirkan. Nah ini ada benang kesamaan dengan teori memantaskan diri, karena orang akan dapat apa yang sesuai dia usahakan. Ketika dia pantas mendapatkan jodoh dengan kriteria tertentu, maka dia akan mendapat apa yang pantas dia dapatkan. Kita diajak untuk memantaskan diri, agar kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Jadikan dirimu pantas mendapat apa yang diinginkan, maka kamu akan dapat apa yang kau inginkan. Inilah persamaan antara teori memantaskan diri dan Lo. Bagaimana jika kata alam semesta diganti dengan kata Allah? Ini tidak akan mengubah apa-apa, karena substansi inti dari LoA tidak akan bisa berubah hanya karena perubahan kata Allah. Alam semesta adalah ciptaan Allah, dan baru bereaksi ketika ada gelombang masuk dari pikiran manusia. Ketika tidak ada gelombang dari pikiran manusia, maka alam tidak bereaksi.
Sama dengan teori memantaskan diri, kita akan dapat apa yang pantas kita dapatkan. Ketika kita memantaskan diri sampai pantas sesuai dengan apa yang kita dapatkan, barulah kita dapat apa yang pantas kita dapatkan. Maka bisa dibilang, teori memantaskan diri adalah hanya terjemahan dari LoA. Hanya ketika disampaikan di kalangan muslim, maka ditambahkan dengan diksi-diksi yang sesuai ajaran Islam, seperti ditambahkan kata Allah.Bagaimana dengan ibadah pada Allah? Pertanyaannya, apakah ibadah kita ini cukup untuk membayar Allah? Apakah hubungan hamba dengan Allah adalah hubungan antara buruh dan majikan? Bukan. Hamba ini terlalu lemah. Allah yang Maha Penyayang, berkenan memberikan rahmatNya pada kita. 
 Juga dalam teori memantaskan diri adalah lebih parah ketika diterapkan dalam konteks Islam. Karena memantaskan diri mengandung adanya hak dan kewajiban. Seolah adalah dengan ibadah kita maka kita merasa pantas untuk mendapatkan. Seolah Allah wajib memberikan pada kita.
Kita memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh, memantaskan diri dengan ibadah, pertanyaannya, apakah ibadah itu membuat kita pantas? Nah akhirnya merasa pantas diri, dan merasa diri ini layak, maka diri ini suah terjangkit kesombongan.
Ketika kita mendapat sesuatu, kita bukan layak, tapi Allah yang memberi pahala dan balasan bagi kita. Allah yang mencurahkan rahmatnya. Karena amalan kita tidak akan bisa membuat pantas.
 Mari kita telaah hadits Nabi berikut ini: عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « لَنْ يُنْجِىَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ ». قَالَ رَجُلٌ وَلاَ إِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ إِيَّاىَ إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِىَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ وَلَكِنْ سَدِّدُوا ».Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Amal seseorang tidak akan menyelamatkannya. Seorang sahabat bertanya: Engkau juga begitu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: bukan juga diriku, kecuali Allah mencurahkan rahmatNya kepadaku, tetapi berusahalah sekuat tenaga.HR Muslim
Ketika amal sudah tidak bisa membuat kita layak masuk sorga, apalagi sekedar mendapatkan jodoh. Sedangkan sorga lebih tinggi nilainya dari sekedar jodoh. Apalagi ketika orang beramal untuk memantaskan diri, maka ada pergeseran niat yang luar biasa, niat bergeser dari mencari ridho Allah, dan mendapatkan sorga, menjadi beramal untuk memantaskan diri. Dan akan terjerumus pada paham merasa diri ini hebat. Mereka yang beramal dan beribadah hanya untuk mendapatkan jodoh amatlah rugi.

Senin, 21 September 2015

Alasan mereka memilih ISLAM dan menjadi MUALLAF

Abdur Raheem Green Mengawali Hidayah dari Doa Bunda Maria

abdur-raheem-greenAbdur Raheem Green terlahir di Dar es Salaam, Tanzania dengan nama Anthony Vatswaf Galvin Green. Ia lahir ketika ayahnya masih menjabat sebagai administrator kolonial Inggris.
Onislam.net melansir, ibu Anthony seorang penganut Katolik Roma, sedangkan ayahnya agnostik. Sejak pernikahannya, sang ibu menyadari bahwa dirinya bukan seorang Katolik yang baik, tapi dia ingin memperbaikinya dengan mengirimkan kedua putranya ke sekolah Katolik.

Maka, Anthony dan saudara laki-lakinya, Duncan, dididik untuk menjadi seorang pemeluk Katolik yang taat. Pada umur 10 tahun, Anthony masuk ke sebuah sekolah Katolik berasrama yang sangat terkenal. Sekolah biara itu bernama Ampleforth College, terletak di Yorkshire, utara Inggris.

Suatu malam, ibunya mengajarkan sebuah doa yang biasa dilafadzkan umat Katolik. “Salam Bunda Maria. Maria, ibu dari Tuhan, terberkatilah engkau di antara para perempuan dan terberkatilah buah yang kau lahirkan, Yesus Kristus.” Itulah kali pertama Anthony merasa heran. Dia bertanya kepada dirinya sendiri, “Bagaimana mungkin Tuhan bisa mempunyai ibu?” Anthony terus memikirkan hal itu. Seandainya Maria adalah ibu dari Tuhan, bukankah lebih baik jika dia menjadi Tuhan itu sendiri?

Seiring waktu, pertanyaan-pertanyaan itu semakin menumpuk di benaknya. Ia juga bertanya, mengapa saya harus pergi melakukan pengakuan dosa? “Bisakah kalian membayangkan anak umur 10, 11, sampai 20 tahun melakukan pengakuan dosa? Apakah kamu yakin mereka akan mengakui semua dosa-dosa mereka.” Mengapa kita harus pergi kepada pendeta untuk mengakui dosa? Mengapa tidak langsung kepada Tuhan saja? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah terjawab.

Ketika ia berumur 11 tahun, ayahnya pindah ke Mesir sebagai Manajer Umum Barclays Bank di Kairo. Namun, Anthony tetap tinggal diInggris. Ia hanya sesekali ke Mesir untuk berlibur.

Anthony menyimpan banyak pertanyaan tentang Katolik. Tapi, ketika seseorang menantang atau mempertanyakan keimanannya, dengan penuh semangat ia akan membela. Ia merasakannya sebagai sebuah paradoks yang aneh.
Ketika itu, ia tengah berlibur di Mesir dan bertemu dengan seseorang. Setelah percakapan selama 40 menit, orang itu memintanya menjawab beberapa pertanyaan sederhana.
Apakah kamu percaya Yesus itu Tuhan? Ya. Kamu percaya Yesus mati di tiang salib? Ya. Jadi, kamu percaya Tuhan mati?
Smash! Seolah-olah Mike Tyson memukul wajahnya dengan  kepalan tinju. Ia sangat terperangah.
Anthony segera menghentikan percakapan dan tidak ingin memikirkan hal itu lagi. Ia pergi, merokok, minum kopi, menulis, dan melakukan apa saja kecuali berpikir tentang orang itu. “Lupakan semua itu, lupakan agama, lupakan spiritualitas. Mungkin masalah sebenarnya adalah saya tidak punya cukup uang.”
Ia berpikir, barangkali bisa memulainya dari Inggris, Amerika, atau Jepang.

Sampai suatu hari, ia menemukan dirinya berada di sebuah toko buku-buku Islam di samping masjid. “Apakah Anda seorang Muslim?” seorang lelaki penjaga toko bertanya pada Anthony. Anthony tidak paham. Apakah yang dimaksud dengan Muslim? “Dengar, saya percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya,” lanjut si lelaki.

Lelaki penjaga toko itu juga berseru gembira sembari mengatakan, shalat Jumat telah tiba. Anthony tidak tahu apa itu shalat Jumat, tapi dia mengikuti orang itu ke masjid. Semua orang di masjid mengajarinya. Saat ini, Anthony dengan Abdur Raheem Green seperti merasa baru saja memulai sebuah hidup baru.  Ia mulai sholat, berdoa, dan mempraktikkan ibadah umat Muslim.

Menurutnya, Islam adalah cahaya, kedamaian, dan ketenangan hati. Ibarat berada dalam sebuah gedung yang gelap gulita, kemudian kita bisa membuka pintu, melangkah keluar, dan berada dalam  terang. Tiba-tiba, kita bisa melihat semuanya dengan jelas.

Marilyn Mornington adalah Hakim Distrik di Inggris, dosen international, dan penulis hukum keluarga termasuk bidang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Ia terpilih sebagai sesama World Academy of Arts & Science.  "Saya sangat nyaman dengan kehidupan keluarga dan kisah-kisah para istri-istri nabi dan para sahabat." Dia berkata kemudian. Risetnya selama bertahun-tahun tersebut membawanya ke suatu titik ketika pilihan menjadi jelas. "Saya harus mengatakan bahwa saya benar-benar tidak punya pilihan dalam hal ini. Allah subhanau wata'ala telah menurunkan pandangan matanya padaku dan itu saja dari saat itu ... Dia menuntunku menyusuri jalan setapak dari tempat tak ada jalan untuk kembali darinya, karena semakin aku sampai tahu tentang Islam, tentang Nabi Muhammad saw, [semakin] itu menjadi jelas bagi saya bahwa ini adalah di mana saya ingin menjadi bagian dan itu adalah apa yang saya inginkan. "

Minggu, 20 September 2015

Bismillah tawakal kunci kekuatan dan kelapangan hati seorang mukmin

Seringkali dijumpai dalam firman-Nya, Allah Ta’ala menyandingkan antara tawakal dengan orang-orang yang beriman. Hal ini menandakan bahwa tawakal merupakan perkara yang sangat agung, yang tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang mukmin. Bagian dari ibadah hati yang akan membawa pelakunya ke jalan-jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Diantara firman-Nya tentang tawakal ketika disandingkan dengan orang-orang beriman, “… dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (QS. Al Ma’idah: 11).

Dan firman-Nya,” Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabla dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambahlah imannya, dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal” (QS. Al Anfal : 2).

Tentunya masih banyak ayat lain dalam Al Qur’an yang berisi tentang tawakal, demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun apakah itu sebenarnya tawakal? Pada pembahasan selanjutnya akan dibahas lebih terperinci mengenai tawakal.

Definisi tawakal

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hakikat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akhirat”

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah upaya dan aktifitas yang dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at.”

Tawakal Bukan Pasrah Tanpa Usaha

Dari definisi sebelumnya para ulama menjelaskan bahwa tawakal harus dibangun di atas dua hal pokok yaitu bersandarnya hati kepada Allah dan mengupayakan sebab yang dihalalkan. Orang berupaya menempuh sebab saja namun tidak bersandar kepada Allah, maka berarti ia cacat imannya. Adapun orang yang bersandar kepada Allah namun tidak berusaha menempuh sebab yang dihalalkan, maka ia berarti cacat akalnya.

Tawakal bukanlah pasrah tanpa berusaha, namun harus disertai ikhtiyar/usaha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan contoh tawakal yang disertai usaha yang memperjelas bahwa tawakal tidak lepas dari ikhtiyar dan penyandaran diri kepada Allah.

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

Tidak kita temukan seekor burung diam saja dan mengharap makanan datang sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan ini, jelas sekali bahwa seekor burung pergi untuk mencari makan, namun seekor burung keluar mencari makan disertai keyakinan akan rizki Allah, maka Allah Ta’ala pun memberikan rizkiNya atas usahanya tersebut.

Syarat-Syarat Tawakal

Untuk mewujudkan tawakal yang benar dan ikhlas diperlukan syarat-syarat. Syarat-syarat ini wajib dipenuhi untuk mewujudkan semua yang telah Allah janjikan. Para ulama menyampaikan empat syarat terwujudnya sikap tawakal yang benar, yaitu:

1. Bertawakal hanya kepada Allah saja. Allah berfirman: “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud: 123).

2. Berkeyakinan yang kuat bahwa Allah Maha mampu mewujudkan semua permintaan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya dan semua yang didapatkan hamba hanyalah dengan pengaturan dan kehendak Allah. Allah berfirman,“Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri.” (QS. Ibrahim: 12).

3. Yakin bahwa Allah akan merealisasikan apa yang di-tawakal-kan seorang hamba apabila ia mengikhlaskan niatnya dan menghadap kepada Allah dengan hatinya. Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.“ (QS. Ath-Thalaq: 3).

4. Tidak putus asa dan patah hati dalam semua usaha yang dilakukan hamba dalam memenuhi kebutuhannya dengan tetap menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Allah berfirman, “Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.’”(QS. At-taubah: 129).

Apabila seorang hamba bertawakal kepada Allah dengan benar-benar ikhlas dan terus mengingat keagungan Allah, maka hati dan akalnya serta seluruh kekuatannya akan semakin kuat mendorongnya untuk melakukan semua amalan. Dengan besarnya tawakal kepada Allah akan memberikan keyakinan yang besar sekali bahkan membuahkan kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi tantangan dan ujian yang berat. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apabila Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya maka tidak ada yang bisa menyingkapnya selain Dia, dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang bisa menolak keutamaan dari-Nya. Allah timpakan musibah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Dengan mendasarkan diri pada keyakinan bahwa hanya Allah saja yang dapat memberikan kemudharatan maka seorang mukmin tidak akan gentar dan takut terhadap tantangan dan ujian yang melanda, seberapapun besarnya, karena dia yakin bahwa Allah akan menolong hambaNya yang berusaha dan menyandarkan hatinya hanya kepada Allah. Dengan keyakinan yang kuat seperti inilah muncul mujahid-mujahid besar dan ulama-ulama pembela agama Islam yang senantiasa teguh di atas agama Islam walaupun menghadapi ujian yang besar, bahkan mereka rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk agama Islam.

Tawakal yang sebenarnya kepada Allah Ta’ala akan menjadikan hati seorang mukmin ridha kepada segala ketentuan dan takdir Allah, yang ini merupakan ciri utama orang yang telah merasakan kemanisan dan kesempurnaan iman. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah Ta’ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya”

Setiap hari, dalam setiap sholat, bahkan dalam setiap raka’at sholat kita selalu membaca ayat yang mulia, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’; hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan… Oleh sebab itu bagi seorang mukmin, tempat menggantungkan hati dan puncak harapannya adalah Allah semata, bukan selain-Nya. Kepada Allah lah kita serahkan seluruh urusan kita.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” (QS. al-Ma’idah: 23). Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban menyandarkan hati semata-mata kepada Allah, karena tawakal adalah termasuk ibadah.

Tawakal yang Salah

Kesalahan dalam memahami dan mengamalkan tawakal akan menyebabkan rusaknya iman dan bisa menyebabkan terjadi kesalahan fatal dalam agama, bahkan bisa terjerumus dalam kesyirikan, baik syirik akbar (syirik besar) maupun syirik asghar (syirik kecil). Adapun kesalahan dalam tawakal yang menyebabkan terjerumus dalam syirik akbar adalah seseorang bertawakal kepada selain Allah, dalam perkara yang hanya mampu diwujudkan oleh Allah. Misalnya: bertawakal kepada makhluk dalam perkara kesehatan, bersandar kepada makhluk agar dosa-dosanya diampuni atau bertawakal kepada makhluk dalam kebaikan di akhirat atau bertawakal dalam meminta anak sebagaimana yang dilakukan para penyembah kubur wali.

Adapun jenis tawakal yang termasuk dalam syirik asghar adalah bertawakal kepada selain Allah yang Allah memberikan kemampuan kepada makhluk untuk memenuhinya. Misalnya: bertawakalnya seorang istri kepada suami dalam nafkahnya, bertawakalnya seorang karyawan kepada atasannya. Termasuk dalam syirik akbar maupun asghar keduanya merupakan dosa besar yang tidak akan terampuni selama pelakunya tidak bertaubat darinya.



Jumat, 18 September 2015

Sabar ada batasnya ga sih??



Hakikatnya, kesabaran itu tidak memiliki batas sebagaimana ganjaran yang Allah sediakan bagi mereka yang bersabar pun tidak memiliki batas.

Allah berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Ibnu Al-Jauzi mengatakan dalam Tashil li Ulumi At-Tanzil, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Ayat ini dapat ditafsirkan dengan dua makna. Pertama, orang yang sabar akan mendapatkan balasan pahala atas kesabarannya dan Allah tidak menghisab amalannya. Mereka inilah yang dijanjikan masuk surga tanpa hisab. Kedua, balasan orang yang melakukan kesabaran itu tidak terbatas, lebih banyak dari apa yang diperhitungkan dan lebih besar daripada apa yang ditakar di mizan pahala, inilah pendapat mayoritas ulama.

Sabar adalah amalan yang agung, sampai-sampai Allah katakan bahwasanya Dia bersama orang yang sabar.

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan bersabarlah! Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal:46)

Dari ayat ini dapat kita katakan, ketika kita memilih untuk tidak bersabar berarti kita telah memilih untuk melepaskan kebersamaan Allah berupa rahmat dan perlindungan-Nya.

Dengan kesabaran pun Allah akan mengangkat seseorang menjadi pemimpin umat, panutan, dan kedudukan yang mulia. Allah berfirman,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

Demikian besar rahmat dan ganjaran yang Allah berikan bagi orang-orang yang bersabar. Pahala dan keutamaan yang begitu besar ini; ma’iyah (kebersamaan) dari Allah, pahala tanpa batas, kedudukan yang mulia, semestinya menjadikan seseorang berkeinginan kuat dan terpacu untuk mewujudkan hakikat kesabaran itu sendiri, yakni kesabaran yang tiada batas.


Kamis, 17 September 2015

Apa boleh bohong demi kebaikan??


SATU dua kali dalam hidup kita, mungkin kita pernah berbohong. Nah, bagaimana jika berbohong demi kebaikan? Dalam Islam, ternyata tidak tidak ada keringanan sedikitpun soal bohong ini, kecuali karena darurat atau kebutuhan yang mendesak. Itu pun dengan batas yang sangat sempit. Seperti tidak dijumpai lagi cara yang lain untuk mewujudkan tujuan yang baik itu, selain harus bohong.

Suatu ketika Nabi Ibrahim pernah bersama istrinya Sarah. Mereka berdua melewati daerah yang dipimpin oleh penguasa yang zhalim. Ketika rakyatnya melihat istri Ibrahim, mereka lapor kepada raja, di sana ada lelaki bersama seorang wanita yang sangat cantik –sementara penguasa ini punya kebiasaan, merampas istri orang dan membunuh suaminya– Penguasa itu mengutus orang untuk menanyakannya.

“Siapa wanita ini?” tanya prajurit.

“Dia saudariku.” Jawab Ibrahim. Setelah menjawab ini, Ibrahim mendatangi istrinya dan mengatakan, “Wahai Sarah, tidak ada di muka bumi ini orang yang beriman selain aku dan dirimu. Orang tadi bertanya kepadaku, aku sampaikan bahwa kamu adalah saudariku. Karena itu, jangan engkau anggap aku berbohong… dst.” (HR Bukhari).

Nabi Ibrahim ‘alahis salam dalam hal ini menggunakan kalimat ambigu. Kata “saudara” bisa bermakna saudara seagama atau saudara kandung. Yang diiginkan Ibrahim adalah saudara seiman/seagama, sementara perkataan beliau ini dipahami oleh prajurit, saudara kandung.


Bohong adalah lawan kata dari jujur (mengungkapkan kebenaran apa adanya tanpa ditutup-tutupi). Bohong berarti sebuah ungkapan untuk melebih-lebihkan, menambah-nambah atau mengurang-ngurangi sebuah peristiwa yang sebenarnya terjadi. Sejatinya, bohong merupakan sebuah kemaksiatan. Artinya berbohong merupakan salah satu perbuatan yang dilarang agama (Islam) dan bagi yang melakukannya akan berdosa. Dalam cerita anak-anak, dikisahkan kalo hidung pinokio akan memanjang jika ketahuan bohong. hehe.. Ini hanyalah kisah simbolik kalo bohong merupakan perbuatan tercela yang pasti ketahuan dan membuatnya malu dikemudian hari. Namun ada saat-saat tertentu, berbohong pun ternyata diperbolehkan loh. Ini seperti yang tertuang dalam Hadist Rasulullah. Rasulullah bersabda bahwa ada tiga jenis bohong yang diperbolehkan, malah menjadi wajib dalam situasi dan kondisi tertentu. Berikut ini tiga jenis Bohong Yang Diperbolehkan Dalam Islam Berdasarkan Hadist Rasulullah

1. Berohong dalam Rangka mendamaikan Saudaranya


Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah dikatakan pendusta orang yang mendamaikan manusia (yang berseteru), melainkan apa yang dikata kan adalah kebaikan”. (Muttafaq ‘Alaih)

Bohong yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mendamaikan dua orang saudaranya yang sedang bermusuhan. Nah, ini jelas banget kan? Mungkin ada diantara kita punya dua orang temen yang saling bermusuhan. Dan tanpa sengaja, dua orang tersebut bercerita (curhat) kepada kita. Masing-masing dari mereka menjelek-jelekkan yang lain. Nah, dalam hal ini kita boleh tuh berbohong dengan mengatakan kalo yang mereka omongin tuh gak bener. Kita bisa berbohong pada masing-masing dari mereka dengan menceritakan kebaikan-kebaikan mereka pada masing-masing teman yang musuhan tadi. Hingga akhirnya, mereka berdua pun berdamai. Dan misi pun selesai.

2. Berbohong Dalam Keadaan Perang/Mara Bahaya



Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membonceng Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di atas kendaraan beliau, maka jika ada seseorang yang bertanya kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di tengah perjalanan, beliau mengatakan, “Ini adalah seorang penunjuk jalanku”. Maka orang yang bertanya tersebut mengira bahwa jalan yang dimaksud adalah makna haqiqi, padahal yang dimaksud oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah jalan kebaikan (sabîlul khair)”. Semata-mata demi kemaslahatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari ancaman musuh-musuh beliau.” (HR. al-Bukhari)


Bohong untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang terancam. Contohya, misalkan ada seseorang (sebut saja namanya fulan) hendak dibunuh oleh orang lain. Padahal kita tahu, orang tersebut tidak bersalah apa-apa. Si fulan meminta perlindungan kepada kita agar dirinya diselamatkan. Dan kita pun akhirnya mau menyembunyikannya. Setelah itu, datanglah orang yang bermaksud membunuh si fulan kepada kita. Tujuannya bertanya kepada kita untuk mencari keberadaan si fulan. Maka pada saat ini, kita boleh berbohong demi kebaikan agar nyawa si fulan terselamatkan.

3. Berbohong Dalam Rangka Menyenangkan Istri

Berkata Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha, “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan (rukhshah pada apa yang diucapkan oleh manusia (berdusta) kecuali dalam tiga perkara, yakni: perang, mendamaikan perseteruan/perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau sebaliknya”.


Bohong yang dilakukan suami untuk menyenangkan istrinya atau bohong yang dilakukan istri untuk menyenangkan suaminya. Hoho… jangan diartikan macem-macem dulu. Contohnya gini. Seorang suami yang membelikan hadiah sebuah baju untuk istri tercintanya. Karena sang suami gak terlalu tahu mode pakaian yang lagi ngetren (fashionable), maka sang suami membeli baju yang.. katakanlah sangat kurang enak dipandang. Modelnya sudah kuno. Ditambah lagi warnanya ngejreng bangeet. Namun sang suami bermaksud menyenangkan istrinya dengan memberikan hadiah buat sang istri tercinta. Nah, meskipun tahu kalo baju pemberiannya sangat jelek, namun istri yang bijak akan menerima dengan senang hati. Dalam hal ini, istri boleh berbohong bahwa pemberian sang suami adalah pemberian terbaik yang pernah ia dapatkan. Tujuannya tidak lain adalah agar suami merasa senang karena pemberiannya diterima dengan baik.

 Atau ketika Istri Bertanya demikian kepada suaminya.

"Mas, aku cantik nggak?", tanya seorang istri kepada suaminya.

"Cantiiik banget. Kamu adalah wanita tercantiiikkk." jawab suaminya.
Istri pun tambah cinta kepada suaminya.

 Bagaimana kalau dijawab jujur? Silakan coba sendiri, resiko juga tanggung sendiri....


Selasa, 15 September 2015

PACARAN atau TAARUF



Bismillahirrahmanirahim,,

Sebelum saya membahas kedua gabungan kata antara Pacaran danTaaruf ,ada baiknya kita mengerti arti masing-masing kata di atas.Mungkin di antara dua pilihan kata antara Pacaran dan Taaruf,telinga kita lebih peka dan condong memilih Pacaran.Kenapa,sebab Pacaran lebih di kenal oleh masyarakat muslim di Indonesia.Seakan sebagian muslim sudah terbawa pergaulan dunia barat yang jauh dari syariat islam.

Perilaku orang tua dan pergaulan sekitar kita seakan telah menjerumuskan dan menghancurkan semua norma keislaman yang kita miliki secara hakiki.Peran orang tua mungkin sangat berpengaruh besar,andaikan saja orang tua kita bisa lebih memahami dan menerangkan Taaruf mungkin kita juga tak akan pernah terjebak kisah cinta yang di halalkan setan di bandingkan di halalkan Allah.Sebenarnya tak ada yang harus di salahkan di sini,hanya diri kita sendiri yang bisa berpikir jernih untuk mulai menghidupkan kembali norma-norma keislaman yang kita punya.


Pacaran diartikan sebagai hubungan yang di jalani ketika seorang pria dan seorang wanita saling menyukai satu sama lain dan ingin menjajaki kemungkinan untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius lagi,atau sebagai status yang melegalkan mereka untuk merasa bebas saat terlihat berdua dan saling mengungkapkan ekspresi sayang.Dari pernyataan tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa dengan Pacaran kita bisa lebih mudah mengikuti alur hawa nafsu ke arah negatif,Naudzubillahmindzalik.

Bayangkan saja kalau rasa cinta kita yang fitrah ini di umbar bebas tanpa batas ke pasangan kita yang belum halal apa yang terjadi?Anda bisa saksikan kehancuran moral sebagian kaum muslimin yang sudah terlanjur mengikuti arusnya,mereka sudah terhanyut dalam bisikan-bisikan setan yang mengajak kesenangan sesaat namun menjadi penyiksaan kita di akhirat selamanya.
Cinta itu terlahir alami,merupakan fitrah manusia sejak lahir.Maka dari itu kita wajib mengekspresikan cinta menurut hakikat dan syariat islam dengan benar.

Sekarang coba kita beralih mengambil makna dari Taaruf.


Taaruf adalah kegiatan bersilaturahmi,kalau pada masa kini kita bilang berkenalan bertatap muka,atau main dan bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan.Berkenalan di sini dapat diartikan untuk mencari jodoh.Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk melanjutkan ke jenjang khitbah.Taaruf di maksudkan untuk mempertemukan yang hendak di jodohkan dengan maksud agar saling mengenal.
Sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan,Taaruf sangat berbeda dengan Pacaran.Taaruf secara syar'i memang di perintahkan oleh Rasullullah SAW bagi pasangan yang ingin menikah.

Di sini terlihat jelas perbedaan yang mendasar antara Pacaran denganTaaruf.Jika Pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat,zina dan maksiat.Taaruf lebih jelas tujuannya yakni untuk mengetahui kriteria calon pasangan.Taaruf juga mempunyai proses.Dalam proses inilah kita bisa lebih memahami kriteria calon pasangan kita nantinya.

Tahap awal dari upaya proses Taaruf dengan calon pasangan,pihak pria dan wanita dipersilakan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan.Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya.Tidak boleh dilakukan cuma berdua saja.Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya.Jadi,Taaruf bukanlah bermesraan berdua,tapi lebih mengangkat pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua.Intinya ,Taaruf adalah proses saling mengenal antara pria dan wanita pra nikah yang dilandasi ketentuan syar'i.

Tidak seperti Pacaran yang hanya mementingkan tujuan ego/nafsu antara pasangan,Taaruf memiliki tujuan yang lebih di Ridhoi Allah.Taarufmerupakan media syar'i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan.Sisi pengenalan juga tak hanya terkait dengan data global,melainkan dengan hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak cukup penting.Misalnya saja masalah kecantikan calon istri,dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya dengan cara yang saksama,bukan cuma sekedar curi-curi pandang atau melihat fotonya.Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi calon istrinya secara langsung,bukan melalui media foto,lukisan ataupun video.Karena pada hakikatnya wajah seorang wanita itu bukanlah aurat.

Sahabat,banyak yang dari kita masih berpikiran bahwa Taaruf sama saja membeli kucing dalam karung,padahal kenyataanya tidak demikian.Kita bisa lebih melihat secara hakiki calon pasangan hidup kita.Yang terpenting dari makna Taaruf adalah bisa menguatkan diri kepada Allah,bukan hanya memfasilitasi nafsu dunia yang tak kunjung usai.

Memilih pasangan hidup seharusnya di dasari atas keimanan yang ia miliki dan keimanannya mampu menguatkan keimanan kita juga.Masalah kita mendapati pasangan yang ganteng atau cantik anggaplah semua bonus dari Allah untuk kita.Asalkan ia Sholeh dan Sholeha semua akan menjadi indah nantinya.

Semua kita kembalikan kepada pribadi masing-masing.Ingin terus melakukanPacaran tapi tak kunjung menentukan tanggal pernikahan,malah menjebak kita kepada kemaksiatan belaka.Atau dengan proses Taaruf yang sangat di Ridhoi Allah dan di anjurkan Rasullullah,yang prosesnya pun tak memakan waktu yang lama untuk melakukan khitbah.Pilihlah yang lebih baik menurut Ridho-Nya dan ketentuan-Nya.Insya Allah kita mendapatkan pasangan hidup yang sesuai dengan kriteria yang kita inginkan.
Aamiin Ya Rabb.....


Minggu, 13 September 2015

Udah Siap Nikah ???


SIAP NIKAH???
yaaah judulnya agak gimana gitu ya hehehe. kenapa aku pake judul kayak gitu?

Bismillahirrahmanirrahim..

Setiap individu yang udah baligh dan udah cukup umur tentunya, apalagi yang udah ngerti CINTA. ceileeeh cinta wkwk :D udah deh gausah munafik, pasti seenggaknya pernah ngerasa "Yaa Allah, hamba pengen nikah Ya Allah.. kirimin jodoh hamba segera Ya Allah.." hehehe, hayoo pernah ga kayak gitu? hayoo ngaku :p

Nah, disini aku mau bagiin sedikit ilmu yang udah aku dapet hari ini. Insya Allah manfaat ya :)

Jadi, jangan cuma pengen cepet cepet nikah ajaaaa. coba kita liat dulu diri kita masing-masing, kira-kira udah pantes ga sih buat nikah? udah sanggup ga sih? udah bener-bener siap ga sih? Iya, kita harus bener-bener nanyain pertanyaan itu ke diri kita masing-masing. Karena nikah itu ga cuma masalah "halaaaah, nikah doang. gue bisa laaah!" atau "gue udah punya banyak duit, gampang lah tinggal nikah doang".

Eitttsssss! jangan sembarangan. Nikah bukan cuma masalah "doang", Nikah itu juga butuh persiapan. sekali lagi di garis bawahi yaaa, NIKAH ITU BUTUH PERSIAPAN. Oke! kita masuk ke inti nih.. jadi apa aja sih yang harus dipersiapkan sebelum menikah? cekidooootttss~

1. Persiapan Fikriyah (Ilmu)

bener banget! nikah itu butuh ilmu. Biar ntar kalo udah bener-bener terjun ke bahtera rumah tangga, ga ngasal kalo mau gini mau gitu. Semua itu ada ilmunya. mulai dari gimana kita bersikap ke suami, ke anak-anak, urusan rumah, urusan keuangan, sampai dengan urusan yang kecil-kecil itu ada ilmunya. biar kita bener-bener bisa jadi keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. (aamiin)

"Dan janganlah engkau berbuat apa yang tidak kamu miliki ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati. Semua itu akan dipertanggung jawabkan." (Qs. Al-Isra)

2. Persiapan Jasadiyah (Jasmani)

kalo yang ini tadi lebih dijelasin tentang gimana posisi laki-laki dan perempuan. jadi yang ngerasa laki-laki kudu siap mental loh yaaa, ga boleh takut sepi, takut setan, apalagi takut gelap cckck. Coba bayangin kalo malem-malem si istri lagi di belakang rumah terus tiba-tiba jerit karena ada suara-suara yang aneh, terus si suami dateng dan ikutan takut? Ga keren banget dong kalo laki-laki modelnya kayak begitu, hmm ga cowok deh~ hehe --v. Inget! Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita.
eh iya, kesehatan juga penting ya, karena Allah lebih mencintai orang mukmin yang kuat daripada orang mukmin yang lemah. jadi kudu sering-sering olahraga. karena ini nantinya juga ngaruh banget apalagi buat para perempuan khususnya (rahimnya dijaga baik-baik :))

3. Persiapan Maliyah (Harta)

pernikahan pasti dong perlu harta/uang untuk mahar, walimah, dan kebutuhan yang lainnya.
tapi yang paling penting buat kita perhatikan :
- harta yang disiapkan harus Halal dan Baik
- harta sebagai sarana untuk membangun bahtera rumah tangga. BUKAN TUJUAN

4. Persiapan Ruhiyah (Hati dan Iman)

Nah! ini yang paling penting.. persiapan ruhiyah, yaitu dengan :
- Taubat dan banyak-banyak Istighfar
- Menjauhi dosa-dosa besar
- Qiyamullail (Sholat Malam)
- Shaum (Puasa)
- Shodaqoh
- Sabar
- Menegakkan hukum Allah.


Gimana jadinya? UDAH SIAP NIKAH? kalau sudah bener-bener siap monggo disegerakan.. kalau yang belum siap? yuk bareng-bareng memepersiapkan diri, dan memantaskan diri dulu :)

"Gausah sibuk bingung sama jodoh kita, Sibuklah mempersiapkan diri kita"

Kalau kitanya udah baik, Insya Allah bakal dikasih Allah yang baik juga buat kita. Allah tau yang terbaik buat kita :')
Barokallah yaaa semoga manfaat^^


Sabtu, 12 September 2015

Muslimah Jatuh Cinta Pada Seorang Lelaki??? Apa Yang Sih Harus Dilakukan?



Jika seorang Muslimah  merasakan hatinya jatuh cinta kepada seorang laki-laki, maka selama ada jalan  hendaknya diusahakan untuk menikah dengannya. Jika tidak ada jalan yang memungkinkan menikahinya, maka muslimah tersebut wajib Shobr (tabah hati), sampai Allah menggantikan dengan lelaki yang lebih baik,  atau Allah “menyembuhkannya” dari “sakit” cinta tersebut, atau Allah mewafatkannya. Inilah solusi yang lebih dekat dengan petunjuk Nash-Nash Syara’ dan lebih menjaga kehormatan serta dien Muslimah tersebut.


Jatuh cinta kepada lawan jenis, dari segi jatuh cinta itu sendiri bukanlah aib dan juga bukan dosa. Jatuh cinta adalah hal yang manusiawi dan menjadi naluri yang ada secara alamiah pada setiap manusia normal. Nabi, orang suci, orang shalih, dan ulama mengalami jatuh cinta kepada lawan jenis sebagaimana manusia pada umumnya. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ cinta kepada Khadijah dan Aisyah, ibnu Umar cinta yang sangat kepada istrinya, Ibnu Hazm cinta pada wanita yang sampai membuatnya menjadi ulama besar, Sayyid Quthub mencintai wanita namun gagal menikahinya, dll semuanya adalah contoh bagaimana perasaan itu adalah perasaan yang normal, wajar, natural, dan biasa.

Adapun mengapa orang yang jatuh cinta perlu mengusahakan menikah dengan orang yang dicintai, maka hal tersebut dikerenakan Syara’ menunjukkan bahwa solusi cinta terhadap lawan jenis adalah dengan menikah dengannya. Di zaman Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ada seorang lelaki yang jatuh cinta setengah mati dengan seorang wanita. Lelaki tersebut bernama Al-Mughits dan wanitanya bernama Bariroh.  Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang mengetahui cinta tersebut merekomendasikan kepada Bariroh agar berkenan menikah dengan Al-Mughits. Rekomendasi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ini menunjukkan bahwa solusi jatuh cinta adalah menikah.

Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (16/ 332)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا يُقَالُ لَهُ مُغِيثٌ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَطُوفُ خَلْفَهَا يَبْكِي وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعبَّاسٍ يَا عَبَّاسُ أَلَا تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ رَاجَعْتِهِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَأْمُرُنِي قَالَ إِنَّمَا أَنَا أَشْفَعُ قَالَتْ لَا حَاجَةَ لِي فِيهِ

Dari Ibnu Abbas bahwasanya suami Bariroh adalah seorang budak.  Namanya Mughits. (setelah keduanya bercerai) Sepertinya aku melihat ia selalu menguntit di belakang Bariroh seraya menangis hingga air matanya membasahi jenggot. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abbas, tidakkah kamu ta’ajub akan kecintaan Mughits terhadap Bariroh dan kebencian Bariroh terhadap Mughits?” Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “andai saja kamu mau meruju’nya kembali (menikah dengannya).” Bariroh bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau  menyuruhku?” beliau menjawab, “Aku hanya menyarankan.” Akhirnya Bariroh pun berkata, “Sesungguhnya aku tak butuh sedikit pun padanya.” (H.R. Bukhari)

Pernah juga ada kejadian, seorang lelaki yang mencintai seorang wanita dan wanita tersebut mencintai lelaki itu. Lalu keduanya ingin menikah, namun dihalang-halangi oleh kakak wanita tersebut. Ternyata Allah melarang sikap sang kakak dan memerintahkan agar menikahkan mereka berdua. Kisah ini juga menunjukkan bahwa jatuh cinta antara dua anak manusia solusinya tetap dikembalikan pada pernikahan selama masih memungkinkan. Bahkan Allah mencela sikap menghalang-halangi pernikahan jika kedua belah pihak telah saling ridha.

At-Tirmidzi meriwatkan kisahnya;

سنن الترمذى – مكنز (11/ 217، بترقيم الشاملة آليا)
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ زَوَّجَ أُخْتَهُ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَتْ عِنْدَهُ مَا كَانَتْ ثُمَّ طَلَّقَهَا تَطْلِيقَةً لَمْ يُرَاجِعْهَا حَتَّى انْقَضَتِ الْعِدَّةُ فَهَوِيَهَا وَهَوِيَتْهُ ثُمَّ خَطَبَهَا مَعَ الْخُطَّابِ فَقَالَ لَهُ يَا لُكَعُ أَكْرَمْتُكَ بِهَا وَزَوَّجْتُكَهَا فَطَلَّقْتَهَا وَاللَّهِ لاَ تَرْجِعُ إِلَيْكَ أَبَدًا آخِرُ مَا عَلَيْكَ قَالَ فَعَلِمَ اللَّهُ حَاجَتَهُ إِلَيْهَا وَحَاجَتَهَا إِلَى بَعْلِهَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ) إِلَى قَوْلِهِ (وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ) فَلَمَّا سَمِعَهَا مَعْقِلٌ قَالَ سَمْعًا لِرَبِّى وَطَاعَةً ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ أُزَوِّجُكَ وَأُكْرِمُكَ.

Dari Ma’qil bin Yasar bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menikahkan saudarinya dengan seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu saudarinya tinggal bersama suaminya beberapa waktu, setelah itu dia menceraikannya begitu saja, ketika masa Iddahnya usai, ternyata suaminya cinta kembali kepada wanita itu begitu sebaliknya, wanita itu juga mencintainya, kemudian dia meminangnya kembali bersama orang-orang yang meminang, maka Ma’qil berkata kepadanya; hai tolol, aku telah memuliakanmu dengannya dan aku telah menikahkannya denganmu, lalu kamu menceraikannya, demi Allah dia tidak akan kembali lagi kepadamu untuk selamanya, inilah akhir kesempatanmu.” Perawi berkata; “Kemudian Allah mengetahui kebutuhan suami kepada istrinya dan kebutuhan isteri kepada suaminya hingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat: “Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya.” QS Al-Baqarah: 231 sampai ayat “Sedang kamu tidak Mengetahui.” Ketika Ma’qil mendengar ayat ini, dia berkata; “Aku mendengar dan patuh kepada Rabbku, lalu dia memanggilnya (mantan suami saudarinya yang ditolaknya tadi) dan berkata; “Aku nikahkan kamu dan aku muliakan kamu.” (At-Tirmidzi)

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sendiri bahkan mengajarkan kepada kita bahwa menikah adalah obat yang paling mujarab bagi dua orang yang saling mencintai. Ibnu Majah meriwayatkan;

سنن ابن ماجه (5/ 440)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ

Dari Ibnu Abbas ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami belum pernah melihat (obat yang mujarab bagi ) dua orang yang saling mencintai sebagaimana sebuah pernikahan.” (H.R.Ibnu Majah)

Nash-Nash ini, dan yang semakna dengannya menunjukkan bahwa menikah adalah solusi Syar’i bagi orang yang jatuh cinta.

Oleh karena itu seorang muslimah yang jatuh cinta kepada seorang lelaki bisa memulai mengusahakan menikah dengan lelaki tersebut dengan cara menawarkan dirinya untuk dinikahi. Cara ini lebih tegas, Syar’i, solutif, dan terhormat. Menawarkan diri kepada lelaki untuk dinikahi bukan perbuatan hina dan tercela. Justru wanita yang menawarkan dirinya kepada seorang lelaki adalah wanita yang mengerti solusi Syar’i terhadap problemnya, tegas dalam mengambil keputusan, terhormat karena tahu cara menjaga kehormatannya dengan ikatan pernikahan yang suci, dan mulia karena  mengetahui kepada siapa dia harus mempersembahkan bakti. Khadijah adalah contoh wanita mulia yang tahu persis kepada siapa beliau mempersembahkan bakti, dan siapa yang pantas jadi imamnya dalam rumah tangga. Dengan ketegasan sikap beliau, maka Khadijah mendapatkan lelaki yang terbaik di alam ini. Justru sikap yang menjauhi ketakwaan jika seorang wanita mencintai seorang lelaki, lalu perasaan tersebut dipendamnya seraya  mengotori hatinya dengan angan-angan tercela. Sesungguhnya angan-angan hati ada yang terkategori dosa sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis dibawah ini;

صحيح مسلم (13/ 124)

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشْبَهَ بِاللَّمَمِ مِمَّا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ النُّطْقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ

Dari Ibnu Abbas dia berkata; ‘Saya tidak mengetahui  sesuatu yang paling dekat dengan makna Lamam (dosa dosa kecil) selain dari apa yang telah dikatakan oleh Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam: “Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla telah menetapkan pada setiap anak cucu Adam bagiannya dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Maka zinanya mata adalah melihat, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan zinanya hati adalah  berangan-anga dan berhasrat, namun kemaluanlah yang (menjadi penentu untuk) membenarkan hal itu atau mendustakannya.” (H.R.Muslim)

Wanita yang menawarkan diri lebih tegas dan jelas sikapnya. Jika hal tersebut bisa berlanjut ke pernikahan, maka hal itu kebahagiaan baginya, namun jika tidak mungkin berlanjut, sikapnya juga sudah jelas dan tinggal menyelesaikan problem sisanya. Wanita yang memendam  rasa sambil berfantasi justru berpeluang untuk lebih menderita dan dekat dengan pelanggaran Syara’, kecuali wanita-wanita yang dirahmati Allah.

Terkait teknis melakukannya, maka wanita bebas memilihnya diantara berbagai cara yang dianggap paling mudah. Bisa melalui perantara atau langsung dirinya sendiri. Bisa secara lisan, bisa juga melalui tulisan. Bisa sekedar memulai untuk menawarkan atau langsung memulai dengan lafadz pinangan.

Hanya saja, solusi menikah ini tidak bermakna bolehnya memaksa lelaki untuk menikahinya.  Hal itu dikarenakan memilih istri adalah hak lelaki yang merupakan pilihan baginya. Sebagaimana wanita berhak memilih calon suami, maka lelaki juga berhak memilih calon istri manapun yang dikehendakinya. Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa lelaki wajib menikahi wanita yang mencintainya. Kisah cinta Al Mughits kepada Bariroh menunjukkan hal tersebut. Betapapun Al-Mughits sangat mencintai Bariroh, dan Nabi juga merekomendasikan Bariroh untuk menikah dengan Al-Mughits, namun Nabi tidak memaksa Bariroh untuk menikah dengan Al-Mughits. Namun, jika cinta itu memang sangat kuat (cinta setengah mati),  memang dianjurkan pihak yang dicintai menikahinya sebagai bentuk rohmah, meskipun dia sendiri belum  mencintainya.

Jika pihak yang dicintai belum berkenan  menikahi dan tertutup semua jalan/kemungkinan untuk menikahi, maka tidak ada jalan bagi muslimah tersebut selain Shobr (tabah hati). Hal itu dikarenakan  Syara’ memerintahkan Shobr pada semua bentuk musibah yang menyedihkan hati secara mutlak dan berjanji memberikan ganjaran yang besar atasnya. Shobr ini terus dilakukan sambil berdoa sampai Allah memberikan ganti lelaki yang lebih baik, atau Allah menghilangkan perasaan tersebut, atau Allah mewafatkannya.

Dengan cara penyikapan seperti ini, maka seorang muslimah akan senantiasa dalam keadaan beramal. Mendapat nikmat suami bisa beramal Syukur, dan jika gagal bisa beramal Shobr. Semuanya adalah kebaikan baginya.

Hanya saja, jika lelaki yang dicintai tersebut haram dinikahi, seperti Mahram, atau musyrik, atau yahudi, atau nasrani, maka Muslimah tersebut tidak boleh menurutinya dan harus menghilangkannya karena menikah dengan mereka hukumnya haram dan tidak sah.