Kamis, 15 Oktober 2015

Bismillah

Duhai calon pemimpin keluarga kecilku..
Aku tau disana kau sedang mempersiapkan diri, terus memperbaiki setiap amalan yaumiyahMu agar kau kelak siap menjadi imam dan pemimpin keluarga kita nanti..
Aku pun disini juga sedang mempersiapkan diri agar kelak nanti aku dapat menjadi ma'mum yang taat serta sahabat yang pintah yang soleha agar kau dapat dengan nyaman untuk berdiskusi seputar urusan dunia maupun
urusan akhirat..

aku tidak menjanjikan kecantikan karena suatu saat kecentikanku ini akan pudar, pudar dimakan usiaku yang kelak semakin tua dan mengeriput kulitku, wajahku yang tak akan kencang lagi mungkin kelak akan mengendur di makan usia. Mungkin di luar sana pun banyak yang lebih cantik dariku, tapi aku berusaha agara dengan semua yang aku miliki dapat kau dapat merasa nyaman ada disampingku..

Aku pun tidak mejanjikan keindahan akhlak karena aku hanyalah muslimah biasa yang masih penuh dengan kekurangan. Tapi aku berharap engkau kelak dapat dengan sabar dan penuh kasih sayang membimbingku dan keluarga kita nanti untuk semakin mencintai Allah..

Aku pun tidak dapat menjanjikan cinta yang besar karena kelak cinta tertinggi kita hanyalah untuk Allah, tapi aku akan mencintaiMu sebagai bentuk cintaku kepada Allah. Aku akan mengabdi kepadaMu sebagai bentuk pengabdianku kepada Allah..

Aku pun tidak menjanjikan dapat menjadi istri yang baik. Tapi aku akan selalu berusaha untuk mendampingimu di kala kau bahagia maupun bersedih, aku akan selalu berusaha ada disini menjadi orang pertama yang akan mendukung semua ide cemerlangmu dan mengingatkan di kala kau khilaf..

Aku akan selalu setia disini menunggumu :)

Senin, 12 Oktober 2015

BAPER?? gak salah kok

Bukankah setaip manusia punya perasaan? itukah yang membedakan kita dengan hewan??
Sangat sering kita dengar istilah BAPER alia bawa perasaan dalam kehidupan kita sehari-hari. katanya sih jadi seorang yang BAPER itu cenderung gak baik, malah tambah sering dibully, di ejek, dimaki, dll.

Bukannya setiap manusia itu pasti punya perasaan, bukannya itu salah satu pembeda kita dengan hewan..
Bukankah BAPER itu fitrah yaa.. tapi kalau sampai salah arah akan membuat masalah juga sih.
Jadi BAPER itu ga masalah si selama kita bisa menempatkan sesuai porsinya, bahkan BAPER akan membuat kita peka terhadap orang lain dan bagaimana harus bersikap terhadap orang lain.

BAPER membuat kita lebih bersyukur dan BAPER bisa mendekatkan kita pada sang pencipta perasaan kan..

Maka BAPERlah pada tempatnya karena jika kita BAPER sembarangan dampaknya juga bakal buruk loh..
orang yang BAPER biasanya cenderung mudah tersinggung, mudah galau, mudah percaya, gampang dirayu dan mudah berprasangka.
Supaya kita bisa BAPER pada tempatnya maka gunakanlah juga akal, perasaan dan hati harus sejalan..

Jangan bawa perasaan aja tapi akalnya juga harus dipake dong, jangan pake akal aja tapi perasaannya juga dibawa dong.. jadi harus seimbang sesuai dengan kata hati

Bukankah Allah sudah berfirman dalam ayat cintanya 

Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (al-mulk:23)


Kamis, 01 Oktober 2015

Jomblo "MASBULOH"

Hari gini kok mau sih ngabisin waktu buat galauin status, tenang aja kalee....
Allah udah siapain 1 orang jodoh sejatimu loh untuk kita yang akan dipertemukan suatu hari nanti ketika kita sudah siap. Yuk sekarang mumpung masih ada waktu kita sama-sama menyiapkan dan memantaskan diri ini untuk bertemu dia, jodoh yang sudah disiapkan allah kepada kita. Tapi sudahkan kamu tahu apa yang ada di balik kata memantaskan diri? Memantaskan diri berarti kita membuat diri kita pantas mendapat jodoh. Ketika kita memiliki target jodoh tertentu, yang mana jika kita memiliki kriteria jodoh yang kita inginkan, maka kita harus memantaskan diri agar sesuai dengan kriteria kita.
Padahal jodoh tidak selamanya memiliki rumus itu, tidak selamanya sesuai dengan rumus yang kita terapkan dalam kehidupan manusia. Banyak yang memiliki keyakinan ketika kita ingin memiliki jodoh dengan spesifikasi tertentu, maka kita harus memantaskan diri untuk spesifikasi yang kita inginkan dari jodoh itu. Ada yang menginginkan jodoh dengan kriteria tinggi, maka dia harus menaikkan spesifikasinya, agar nanti ketika sudah pantas, dia akan mendapatkan jodoh yang dia inginkan dengan spesifikasi yang cocok. Padahal jodoh tidak selamanya seperti itu. Tidak berdasarkan kepantasan dan kepatutan tertentu. Jodoh adalah pilihan Allah.
Akhirnya ketika dia tidak menemukan jodoh dengan spesifikasinya, maka dia tidak mau menikah. Ketika tidak ketemu jodoh yang sesuai spesifikasi, maka dia bisa jadi menggerutu dan menyalahkan Allah, karena merasa dirinya sudah sesuai spesifikasi, maka harus mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya. Dia menganggap ketika sudah memenuhi spesifikasi, maka Allah wajib memberikan apa yang menjadi impiannya. Dia menggugat Allah. Di samping itu juga, sangat kental nuansa Law of Attraction di balik kata memantaskan diri. Apa itu Law of Attraction? Itu adalah istilah modern untuk hukum karma dalam keyakinan hindu. Kita mendapatkan apa yang pantas kita dapatkan. Ketika kita ingin mendapatkan, maka kita harus memantaskan diri agar bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Memantaskan diri, dalam pandangan LoA, adalah dengan memancarkan frekuensi yang cocok ke alam semesta lewat pikiran.
Ketika kita sudah memantaskan diri, maka kita akan menarik Allah untuk memberikan yang kita inginkan. Dan seolah-olah Allah akan bergerak sesuai dengan kepantasan kita, bukan sesuai dengan kehendakNya. Artinya dari kita yang bergerak, kemudian Allah yang memberi kita sesuai yang kita kehendaki. Seolah olah Allah menunggu kita untuk bergerak sebelum berkehendak. Seolah Allah tidak memiliki kehendak merdeka, melainkan harus menunggu frekuensi yang tepat dari hambaNya untuk bergerak. Kita harus menyesuaikan diri dengan jodoh kita, nanti baru Allah memberi jodoh yang sesuai.
Dan dalam prakteknya, banyak sekali rumah tangga yang tidak berdiri di atas kecocokan seperti itu. Banyak orang yang nampak jodohnya tidak cocok dan tidak sesuai, ya ini karena memang yang berlaku bukan seperti yang teori memantaskan diri, yang meyakini bahwa jodoh adalah dari diri kita sendiri. Bukan seperti teori jodoh adalah dari usaha kita sendiri, bukan dari pemberian Allah. Dan bisa jadi menurut kita cocok, tapi menurut Allah tidak. Kita lebih percaya dan lebih menerima pilihan Allah daripada pilihan kita sendiri. Karena Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak.
Banyak sekali yang jika kita lihat tidak cocok, tetapi nyatanya tetap berumah tangga hingga sekarang. Dan banyak sekali orang yang tidak pernah saling kenal sebelumnya, baru mengenal saat sesi perkenalan, tapi berumah tangga dengan indah. Bahkan ada yang sama sekali tidak pernah melihat istrinya sama sekali, baru melihat setelah melakukan akad nikah. Tapi rumah tangga mereka bahagia. Allah tidak menetapkan teori memantaskan diri seperti ini. Yang harus kita lakukan adalah kita beramal shaleh sebanyak mungkin, dan ini adalah tugas kita selama di dunia, apakah kita mau berjodoh atau tidak, tetaplah itu menjadi tugas kita kepada Allah. Kita kita harus mengejar rahmat Allah.
Persoalan jodoh itu menjadi urusan Allah. Sebagaimana ada yang tidak diberi harta banyak di dunia ini, ada mereka yang tidak diberi jodoh. Tapi di sorga nanti, semua akan meraih jodoh. Di mana masalah teori memantaskan diri? Masalahnya adalah kita merasa bahwa jodoh adalah dari diri kita sendiri yang kemudian mengontrol Allah. Ketika kita tidak pantas, maka Allah tidak akan memberi. Konsekuensi teori ini adalah tidak ada Allah di dunia ini. Atau jika dipaksakan menganggap adanya Allah, maka Allah tidak memiliki kehendak sendiri, dan Allah dikontrol oleh kehendak hambaNya. Karena LoA pada dasar teori aslinya adalah teori yang meniadakan Allah, yang ada dalam kamus mereka adalah alam semesta, dengan kata semesta, mereka meniadakan Allah. Ketika kita ingin sesuatu, maka tinggal memikirkan, memancarkan gelombang ke semesta, maka semesta akan memproses permintaan kita, kita akan mendapat apa yang kita pikirkan. Semesta akan hanya memproses apa yang diminta dan dipikirkan oleh pikiran kita. Demikian keyakinan Law of Attraction yang menyimpang.
Kita akan dapat apa yang kita pikirkan. Nah ini ada benang kesamaan dengan teori memantaskan diri, karena orang akan dapat apa yang sesuai dia usahakan. Ketika dia pantas mendapatkan jodoh dengan kriteria tertentu, maka dia akan mendapat apa yang pantas dia dapatkan. Kita diajak untuk memantaskan diri, agar kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Jadikan dirimu pantas mendapat apa yang diinginkan, maka kamu akan dapat apa yang kau inginkan. Inilah persamaan antara teori memantaskan diri dan Lo. Bagaimana jika kata alam semesta diganti dengan kata Allah? Ini tidak akan mengubah apa-apa, karena substansi inti dari LoA tidak akan bisa berubah hanya karena perubahan kata Allah. Alam semesta adalah ciptaan Allah, dan baru bereaksi ketika ada gelombang masuk dari pikiran manusia. Ketika tidak ada gelombang dari pikiran manusia, maka alam tidak bereaksi.
Sama dengan teori memantaskan diri, kita akan dapat apa yang pantas kita dapatkan. Ketika kita memantaskan diri sampai pantas sesuai dengan apa yang kita dapatkan, barulah kita dapat apa yang pantas kita dapatkan. Maka bisa dibilang, teori memantaskan diri adalah hanya terjemahan dari LoA. Hanya ketika disampaikan di kalangan muslim, maka ditambahkan dengan diksi-diksi yang sesuai ajaran Islam, seperti ditambahkan kata Allah.Bagaimana dengan ibadah pada Allah? Pertanyaannya, apakah ibadah kita ini cukup untuk membayar Allah? Apakah hubungan hamba dengan Allah adalah hubungan antara buruh dan majikan? Bukan. Hamba ini terlalu lemah. Allah yang Maha Penyayang, berkenan memberikan rahmatNya pada kita. 
 Juga dalam teori memantaskan diri adalah lebih parah ketika diterapkan dalam konteks Islam. Karena memantaskan diri mengandung adanya hak dan kewajiban. Seolah adalah dengan ibadah kita maka kita merasa pantas untuk mendapatkan. Seolah Allah wajib memberikan pada kita.
Kita memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh, memantaskan diri dengan ibadah, pertanyaannya, apakah ibadah itu membuat kita pantas? Nah akhirnya merasa pantas diri, dan merasa diri ini layak, maka diri ini suah terjangkit kesombongan.
Ketika kita mendapat sesuatu, kita bukan layak, tapi Allah yang memberi pahala dan balasan bagi kita. Allah yang mencurahkan rahmatnya. Karena amalan kita tidak akan bisa membuat pantas.
 Mari kita telaah hadits Nabi berikut ini: عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « لَنْ يُنْجِىَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ ». قَالَ رَجُلٌ وَلاَ إِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ إِيَّاىَ إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِىَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ وَلَكِنْ سَدِّدُوا ».Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Amal seseorang tidak akan menyelamatkannya. Seorang sahabat bertanya: Engkau juga begitu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: bukan juga diriku, kecuali Allah mencurahkan rahmatNya kepadaku, tetapi berusahalah sekuat tenaga.HR Muslim
Ketika amal sudah tidak bisa membuat kita layak masuk sorga, apalagi sekedar mendapatkan jodoh. Sedangkan sorga lebih tinggi nilainya dari sekedar jodoh. Apalagi ketika orang beramal untuk memantaskan diri, maka ada pergeseran niat yang luar biasa, niat bergeser dari mencari ridho Allah, dan mendapatkan sorga, menjadi beramal untuk memantaskan diri. Dan akan terjerumus pada paham merasa diri ini hebat. Mereka yang beramal dan beribadah hanya untuk mendapatkan jodoh amatlah rugi.